Daging Olahan Berisiko Ketimbang Daging Segar

22 05 2010

Jakarta – Makan sosis, hot dog, dan berbagai daging olahan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes. Kadar garam dan unsur kimia daging olahan menjadi penyebabnya.

Mengkonsumsi produk yang tidak diolah dari daging, babi ataupun domba justru tidak meningkatkan risiko serangan jantung dan diabetes. Kadar garam dan unsur kimia mungkin menjadi penyebab dari dua masalah kesehatan yang sering dihubungkan dengan konsumsi daging ini.

Studi yang bagi beberapa peneliti menyebutnya sebagai meta-analisis, tidak melihat tekanan darah tinggi ataupun kanker berhubungan dengan konsumsi daging kadar tinggi.

“Untuk mengurangi risiko serangan jantung dan diabetes, orang harus mempertimbangkan jenis daging yang mereka konsumsi,” kata Renata Micha dari Harvard School of Public Health yang melaporkan studi ini di Jurnal Circulation.

“Daging olahan seperti bacon, salami, sosis, hot dogs, dan lainnya mungkin menjadi hal paling penting untuk dihindari,” kata Micha. Berdasarkan penemuannya, Micha mengatakan bahwa orang yang memakan satu porsi setiap minggu atau kurang memiliki risiko yang lebih sedikit.

American Meat Institute keberatan dengan hasil penelitian ini dan mengatakan kontras dari studi lain termasuk dari US Dietary Guidelines for Americans. “Hipotesis ini membutuhkan penelitian lanjutan. Ini tentu saja tidak ada alasan untuk melakukan perubahan diet,” kata James Hodges, Presiden American Meat Institute.

Kebanyakan pedoman diet merekomendasikan untuk mengkonsumsi sedikit daging. Studi lain melihat hubungan antara konsumsi daging dan penyakit kardiovaskuler maupun diabetes.

Micha memaparkan, studinya ini memang agak berbeda karena mencoba melihat perbedaan dalam risiko antara daging merah yang diproses maupun tidak diproses.

Micha dan koleganya melakukan pengamatan sistematis setidaknya dari 1.600 studi di seluruh dunia untuk mencari bukti hubungan antara konsumsi daging yang diproses dan yang tidak dengan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Mereka mengartikan daging olahan sebagai semua daging yang diawetkan dengan pengasapan, penggaraman, atau memberikan bahan kimia dalam memprosesannya.

Daging di kategori ini termasuk dengan bacon, salami, sosis, hot dog, atau daging olahan apapun. Daging yang tidak diolah adalah daging sapi, daging domba dan babi, tapi tidak dengan unggas.

Mereka menemukan bahwa rata-rata, setiap 50 gram daging olahan setiap harinya berhubungan dengan 42% lebih tinggi akan risiko penyakit jantung dan 19% beiesiko lebih tinggi terhadap perkembangan penyakit diabetes. Mereka menemukan tidak ada penambahan risiko jantung atau diabetes bagi individu yang mengkonsumsi hanya daging merah tidak diolah.

Tim ini menyesuaikan dengan sejumlah faktor di antaranya berapa banyak individu mengkonsumsi daging. Mereka mengatakan bahwa faktor gaya hidup cukup sama antara mereka yang mengkonsumsi daging olahan dan daging bukan olahan.

“Sebagai perbandingan, daging olahan rata-rata mengandung empat kali lebih banyak sodium dan 50% lebih banyak natrium nitrat,” imbuh Micha.

Bulan lalu, Institute of Medicine mendesak US Food and Drug Administration untuk mengatur jumlah garam yang ditambahkan pada makanan untuk membantu warga Amerika mengontrol jumlah sodium yang mereka konsumsi.

sumber: inilah.com


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: