Kemkes: Tidak Ada Wabah Flu Singapura

7 05 2010

Jakarta, Sejumlah anak-anak di bawah usia 5 tahun di wilayah Jabotabek terdeteksi terkena Flu Singapura. Namun kementerian kesehatan (kemkes) menegaskan tidak ada wabah Flu Singapura.

Seperti pantauan detikHealth, Afaf (18 bulan) terdiagnosa kena Flu Singapura setelah berobat ke dokter di kawasan Jakarta Selatan.

“Saya kaget juga ketika anak saya didiagnosa Flu Singapura, memang saya sempat curiga jangan-jangan anak saya kena Flu Singapura dan itu terbukti setelah dibawa ke dokter,” kata Kurnia, Ibunda Afaf yang berprofesi sebagai perawat ketika ditemui di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan.

Kurnia curiga anaknya terkena Flu Singpura setelah anaknya panas tinggi 38 derajat dan keluar bintil-bintil merah di punggungnya dan si anak juga kondisinya lemah, rewel dan matanya sayu.

Sementara Soni (4 tahun) juga divonis terkena flu singapura. Dokter yang merawat menduga Soni terkena Flu Singapura akibat tertular teman-temannya di sekolah.

“Tadinya saya pikir anak saya terkena cacar karena ada bintil merah di hidungnya, tapi ini beda dengan cacar biasa soalnya bintilnya lebih besar. Anak saya pun harus dioperasi ringan untuk mengangkat bintilnya,” kata Ayah Soni, Bambang yang ditemui di rumah sakit ibu dan anak di Jakarta Timur.

Lain lagi dengan Athan (4 tahun) yang juga terkena Flu Singapura setelah di bawa ke rumah sakit di kawasan Serpong. “Ciri-cirinya memang seperti penyakit kuku dan mulut,” kata Budi, ayah Atan.

Namun menurut Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, hingga kini tidak ada laporan terjadi wabah Flu Singapura.

“Nggak ada laporan begitu, biasa saja, kasus-kasus seperti itu memang selalu ada,” kata Prof Tjandra ketika dihubungi detikHealth, Kamis (6/5/2010).

Menurutnya, istilah Flu Singapura telah salah kaprah dipakai karena sebenarnya yang dialami anak-anak itu adalah Penyakit Tangan Kaki Mulut (Hand Foot Mouth Disease/HFMD).

“Penyakit Tangan Kaki Mulut atau yang kadang-kadang secara ‘salah kaprah’ disebut sebagai Flu Singapura adalah penyakit yang cukup sering ditemui pada anak dan bayi dengan masa inkubasi 3-7 hari,” kata Prof Tjandra dalam rilisnya.

Penyakit ini menurutnya ditandai dengan:

1. Demam
2. Ruam dan bintil-bintil merah di telapak kaki, tangan dan mukosa mulut
3. Tidak nafsu makan
4. Malaise (lemah)
5. Nyeri tenggorok.
6. Setelah 1-2 hari demam, timbul keluhan nyeri di mulut dimulai dari bintil sampai kemudian dapat menjadi mucus. Lesi dapat terjadi di lidah, gusi dan bagian dalam mulut lain.
7. Biasanya penyakit ini tidak berat, pengobatan hanya suportif dan akan sembuh dalam 7-10 hari.

Penyebab HFMD adalah enterovirus secara umum, termasuk coxsackievirus A16, EV 71 dan echovirus. Pada kejadian sangat jarang, HFMD akibat EV 71 juga dapat menyebabkan meningitis dan bahkan encephalitis, seperi merebaknya HFMD di Malaysia 1997 dan Taiwan 1998.

Infeksi EV 71 dapat bermula dari saluran cerna yang kemudian sistemik dan menimbulkan gangguan neurologik. Sementara itu, HFMD akibat coxsackievirus A16 juga dapat menyebabkan meningitis.

HFMD adalah moderately contagious, menular melalui kontak langsung cairan hidung dan tenggorok, saliva, cairan dari blister atau tinja pasien. Masa penularan terbesar adalah pada minggu pertama sakit.

“Tidak ada pencegahan khusus untuk HFMD, tetapi risiko tertular dapat diturunkan dengan melakukan hidup sehat seperti mencuci tangan,” kata Prof Tjandra.

Sebelumnya, dr R. Fera Ibrahim M.Sc.,Ph.D.,SpMK, peneliti dan dosen di Departemen Mikrobiologi Klinik FKUI saat dihubungi detikHealth, mengatakan tak ada obat yang spesifik untuk anti virus Flu Singapura ini.

Gejala-gejala yang ditimbulkan dapat segera hilang dengan menggunakan obat-obatan atau multivitamin yang biasa digunakan untuk influenza. Biasanya dokter akan memberikan interferon untuk menaikkan sistem kekebalan tubuh pasien.

Flu Singapura sangat mudah menular. Penularannya sama seperti penularan flu pada umumnya, yaitu melalui kontak langsung saat bicara, batuk, bersin, yang dapat mengeluarkan cairan saluran nafas.

Bisa juga melalui cairan lesi vasekular yang mengenai kulit. Yang paling rentan pada anak-anak adalah melalui mainan yang digigit.

Untuk pencegahan, hindarilah kontak langsung dengan penderitanya. Terutama bagi anak-anak yang rentan terhadap berbagai macam penyakit

sumber;detikhealth


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: