Cara Diet ‘The Biggest Loser’ Panen Kecaman

25 02 2010

Houston, Acara lomba menurunkan berat badan di televisi ‘The Biggest Loser’ ternyata menimbulkan kontroversi. Para dokter dan ahli gizi berpikir bahwa acara ini hanya berfokus pada kompetisi penurunan berat badan dan bisa menimbulkan bahaya.

“Acara ini membawa orang-orang yang tidak aktif dan tidak dalam kondisi baik untuk segera menurunkan berat badannya secara drastis, hal ini bisa menimbulkan stres pada diri peserta,” ujar Carol Wolin-Riklin, seorang koordinator gizi dari University of Texas Medical School di Houston, seperti dikutip dari LiveScience, Selasa (23/2/2010).

Seperti dalam episode di musim 8 terdapat dua pasien yang dirawat di rumah sakit setelah pingsan akibat berlari selama 1 mil (1,6 km). Sementara tahun ini dalam musim 9 dibuka tantangan yang lebih berat karena peserta harus berlari sejauh 26,2 mil (42 km), hal ini membuat satu peserta terserang kram parah sedangkan kontestan lainnya dirawat akibat kelelahan.

Produser acara mengungkapkan bahwa kontestan berada di bawah pengawasan medis dan mengatakan sifat ekstrim yang ada dikompetisi adalah inspirasi bagi pemirsa. Padahal tentu saja ada risiko kesehatan serius yang bisa terjadi pada peserta.

“Menurunkan berat badan memang ide yang sangat bagus karena dapat mengurangi risiko jantung, diabetes, tekanan darah tinggi atau penyakit lain jika dilakukan dengan benar. Tapi jika caranya salah justru bisa memperparah obesitas yang ada dan risiko lainnya,” ujar Wolin-Riklin.

Wolin-Riklin menuturkan cara yang sehat untuk menurunkan berat badan adalah dengan melakukan perubahan sedikit demi sedikit sehingga berkesempatan untuk mengubah gaya hidup sehatnya menjadi lebih lama. Tapi cara yang dilakukan dalam ‘The Biggest Loser’ sepertinya jauh dari dunia nyata.

Para peserta dipaksa untuk latihan keras selama 5-6 jam sehari, makanan diawasi ketat dan dipaksa untuk menurunkan dua digit pound berat badannya dalam satu minggu, peserta yang persentase kehilangan berat badannya sedikit akan dipulangkan.

Menurut Robert Kushner, direktur klinis Northwestern University Comprehensive Center on Obesity, tingkat penurunan berat badan yang aman dan sehat sekitar 1-2 pounds per minggu (0,45 kg-1 kg).

Para ahli mengatakan kehilangan berat badan secara cepat dan drastis akan berisiko terkena batu empedu, defisiensi mineral, kehilangan jaringan otot serta mengurangi kepadatan tulang.

Sedangkan awal latihan yang berat dapat menyebabkan masalah dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan fungsi jantung serta menambah beban pada tulang yang sudah mengalami stres.

“Beberapa mantan peserta Biggest Loser telah kembali ke berat badanya semula dan hidup seperti dulu lagi, hal ini tidak mengejutkan bagi saya. Akan menjadi hal yang sangat sulit bagi mereka untuk mempertahankan pola hidup sehatnya akibat penurunan berat badan yang cepat,” ungkap Kushner.

Cara aman dan lebih sehat dalam menurunkan berat badan agar bisa permanen adalah dengan membuat perubahan kecil, seperti peningkatan waktu latihan atau mengganti makanan yang tidak sehat dengan yang sehat secara bertahap.

“Kami tidak menginginkan perubahan ekstrim dalam gaya hidup seseorang, tapi menginginkan perubahan yang bisa dipertahankan untuk jangka pajang,” tambahnya.

sumber: detikhealth


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: